Rindu untuk Ayah

Hari itu semua hilang begitu saja, tak ada lagi tawa layaknya dulu. Tak ada bahagia yang sempurna. Sudah hampir satu tahun ayahku meninggalkan dunia ini. Begitu cepat waktu yang kita lalui bersama. Sekarang aku tidak bisa melihat senyum diwajahnya dan tidak bisa berbagi cerita bersama. Kasih sayang yang dahulu lengkap namun tak lagi bisa aku rasakan setelah ayah meninggalkanku. Hanya ibu yang aku punya saat ini.

Hari itu adalah hari terakhir bagiku. Terakhir kali aku melihatnya dan itu benar-benar akhir dari segalanya. Aku kehilangan laki-laki hebatku untuk slama-lamanya. Orang yang selalu memberiku kebahagiaan telah pergi meninggalkan aku selamanya. Tak pernah terpikir olehku ayah akan pergi secepat ini dan sulit dipercaya. Namun, ini semua adalah takdir jalan hidupku yang harus aku lewati meski tak sedikit aku mengeluh.

Minggu, 01 Agustus 2021 ayahku kembali ke rumah Allah. Masih teringat jelas memori hari itu, hari terakhir aku melihat ayahku di dunia. Saat itu ayahku sudah seminggu sakit yang kukira sakitnya karena kelelahan. Di hari sabtunya kakakku memanggil dokter ke rumah dan memberi obat. Aku kira ayahku sudah mendingan karena ia sudah mau makan dan minum obatnya. Bahkan saat itu ayahku dijaga oleh kakak laki-lakiku. Tetapi esok harinya saat subuh kakakku membangunkanku untuk bergantian menjaga ayah, aku dan ibu terkejut dan mendapati ayah yang batuknya sudah parah seperti sesak napas. Tidak lama saat matahari terbit kakak perempuanku datang dengan perasaan yang sama denganku. Air mata kami tak terbendung lagi, tidak tega melihat ayah yang seperti itu. Lalu kakakku menenangkan aku dan ibu dengan menyuruh membacakan yasin. Saat kakakku pulang aku dan ibu terus menemani ayah dengan aku yang berbaring di sebelah ayah dan juga ibu yang duduk di sebelahnya. Tetapi tidak lama pada detik itu napas ayah berhenti, tak ada kata yang terucap lagi. Hari itu detik itu kami semua tidak menyangka jika ayah pergi secepat itu dan memang tidak ada yang tau umur seseorang sampai kapan, tapi kami ikhlas.

Sampai saat ini obat rinduku hanyalah selembar foto. Baru aku tau bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang begitu berarti. Baru aku merasakan bagaimana rasanya menahan rindu yang tak bisa tertahan pada seseorang yang tak mungkin bisa kembali. Banyak harapan ayah yang belum sempat aku wujudkan. Seringkali aku menangis, tapi itu semua takkan bisa memutar kembali waktu. Kini aku aku hanya bisa mendoakannya dan berusaha untuk selalu menjadi yang terbaik.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer