Monokrom sang Bulan
Bulan
Kau adalah temanku di kala malam yang diliputi kegelapan.
Cahayamu menuntunku di kala aku tak tahu harus kemana.
Wajahmu yang indah berseri seperti tak menanggung beban.
Namun, hampir tak banyak ku tahu tentang kondisimu sebenarnya.
Kau hidup dalam tekanan yang meminta kesempurnaan.
Kau dikenal baik itulah yang membuatmu terjerat rasa bersalah tak terkira.
Perasaan bersalah karena merasa dirimu tidak seperti yang mereka bayangkan.
Padahal untuk menjadi baik tak harus jadi sempurna.
Kau adalah temanku di kala malam yang diliputi kegelapan.
Cahayamu menuntunku di kala aku tak tahu harus kemana.
Wajahmu yang indah berseri seperti tak menanggung beban.
Namun, hampir tak banyak ku tahu tentang kondisimu sebenarnya.
Kau hidup dalam tekanan yang meminta kesempurnaan.
Kau dikenal baik itulah yang membuatmu terjerat rasa bersalah tak terkira.
Perasaan bersalah karena merasa dirimu tidak seperti yang mereka bayangkan.
Padahal untuk menjadi baik tak harus jadi sempurna.
Bulan
Tak tahu aku harus bagaimana membalas kebaikanmu.
Dirimu bagaikan air di kala diriku kehausan.
Datang lantas menawarkan kesegaran.
Di kala semua orang bersembunyi dari kegelapan.
Datang lantas menerangi meski tak ada upah untukmu.
Bulan biarkanlah aku untuk memberikan balasan.
Balasan sepantasnya dari semua kerja kerasmu.
Wahai Bulan
Ambilah waktu sejenak untuk istirahatmu.
Tenangkanlah dirimu lepaskan segala bebanmu.
Tetaplah berjalan pada orbitmu karena itulah yang terbaik untukmu.
Janganlah dirimu berusaha memenuhi tuntutan sampai lupa dengan kondisimu.
Cukup sudah dirimu menemani dalam malamku.
Aku tak meminta kesempurnaan darimu.
Tak perlu juga dirimu bersedih atas kekuranganmu.
Dirimu unik dan spesial dalam versimu.
Komentar
Posting Komentar